Bahaya dan Dampak Sering Minum Minuman Kemasan

HOP CHURCHBlog

Rasa nikmat dan mudah didapatkan menjadi beberapa faktor penyebab minuman kemasan banyak digemari masyarakat. Namun sebaiknya kita juga membuka mata untuk mau mempelajari beberapa bahaya terselubung dan efek yang merugikan tubuh di balik ragam minuman kemasan yang menjamur di pasaran sekitar kita.

Minuman kemasan selalu mengandung zat pengawet, pewarna dan pemanis buatan. Ketiga zat ini sangat bahaya sekali buat tubuh manusia, sehingga kita mesti waspada terhadap dampaknya bagi kesehatan.

Di bawah ini adalah bahaya dan dampak sering minum minuman kemasan:

  1. Obesitas
    Tumpukan pemanis yang kita tenggak akan diolah tubuh untuk kemudian disimpan dalam jaringan tubuh dan karena jumlahnya berlebih maka penyimpanan tersebut diubah sedemikian rupa untuk kemudian menjadi dalam bentuk lemak. Hal inilah yang kemudian menjadi penyebab bagaimana gula dapat berkontribusi terhadap berpotensinya terjadi kegemukan pada seseorang.
  2. Diabetes
    Berbicara mengenai kadar pemanis yang tinggi yang kita minum dari ragam minuman kemasan, hal ini akan senantiasa membuat insulin bekerja ekstra keras untuk mengolah semua gula yang mengalir dalam darah dalam jumlah yang melonjak. Dan sebagai resiko jangka panjang insulin akan mengalami penurunan kinerja dan diabetes pun dapat mengintai kita setiap saatnya.
  3. Dehidrasi
    Terutama bagi minuman kemasan yang memiliki kandungan kafein tinggi. Saat meminumnya bukan artinya menghilangkan haus, namun sejatinya kita akan semakin merasa kekeringan karena biasanya jenis minuman kafein cenderung termasuk pemicu keadaan diuretik yang erat kaitannya dengan dehidrasi, yakni suatu keadaan dimana kita mengalami rangsangan untuk senantiasa berkemih dan membuang urin kita semakin dalam frekuensi dan sering. Konsumsi kafein secara berkepanjangan dan berlebihan bisa sangat mengganggu kondisi tubuh kita pada akhirnya maka kebijakan dalam menentukan batas porsi konsumsinya amatlah disarankan.
  4. Tekanan darah tinggi
    Minuman kemasan tinggi kadar kafein memang akan membantu meningkatkan adrenalin, membuat kita bersemangat dan lebih betah terjaga untuk beraktifitas. Namun jika berlebihan dikonsumsi dalam jangka panjang hal ini tak akan bagus juga untuk kesehatan sistem kardiovaskular utamanya dalam kestabilan tensi darah. Kandungan kafein tinggi tersebut akan memicu semakin meningkatnya tensi darah bagi para peminumnya jadi sebaiknya perlu diberikan perhatian agar jangan diremehkan demi kesehatan kita.
  5. Resiko kanker
    Beragam zat tambahan yang terdapat dalam minuman kemasan baik pemanis, pewarna, pengawet dan seterusnya sangatlah berdampak buruk bagaikan racun bagi kesehatan tubuh kita. Utamanya yakni dapat menjadi zat karsinogenik atau zat pemicu kanker bagi beberapa organ utamanya semisal saluran cerna atau lambung, sekitar daerah kerongkongan dan seterusnya.

Tips memilih minuman yang lebih sehat
Yang terbaik dan tentunya tak akan ada yang dapat mengalahkan khasiat air putih dalam menghilangkan haus. Nol kalori artinya tak akan berpotensi memberi anda resiko diabetes ataupun obesitas berapa banyak pun kita sanggup meminumnya.

Jika kita menginginkan minuman yang lebih dari sekedar air putih, sesekali kita bisa membuat teh atau kopi dengan catatan dengan gula yang tidak berlebih takarannya dan juga tak usah terlalu bersemangat menambah krimer yang sarat tambahan kalori.

Minuman sehat yang lain dapat kita temukan dengan membuat jus dari buah alami. Manisnya tidak akan memberi dampak buruk bagi tubuh kita.Soal rasa tak akan kalah dan dari segi vitamin yang terkandung di dalamnya bahkan bukan tandingan bagi minuman kemasan yang banyak beredar di pasaran.

Sebisa mungkin hindari apalagi minuman bersoda yang bisa mengganggu sistem cerna anda. sesekali cobalah minum air dengan ekstra perasan lemon dan madu misalnya. Rasanya lebih lezat dan bahan alaminya akan memberi banyak khasiat pada kesehatan tubuh kita.

Demi terhindar dari dampak tak sehat serta pencemaran lingkungan maka ada baiknya kita benar-benar membatasi konsumsi minuman kemasan.

 

By Ps. Dr. Kartika Suryadi